RAIHANPAHIMI

publish your book for free?AFF=9142
Showing posts with label .motivasi. cinta. Show all posts
Showing posts with label .motivasi. cinta. Show all posts

Monday, 18 May 2015

Cinta Monyet:


Sebenarnya cinta itu indah dan suci,tapi manusia yang membuat cinta itu menjadi buta.. Sayang sekali kerana cinta manusia sekarang adalah cinta buta… Cinta yang yang penuh dengan nafsu semata-mata,tiada keikhlasan di hati. Manusia sekarang hanya mementingkan nafsu dari segala-galanya. Itu bukan cinta namanya. Itulah cinta yang ditukar menjadi racun. Semakin ramai remaja cuba menjustifikasikan bahawa cinta mereka adalah suci kerana mereka ber’sms’ hal-hal iman dan amal, sedangkan yang terangsang bukanlah keinginan untuk beribadah, tetapi gelodak nafsu yang licik menipu.Berikut adalah antara kesan cinta monyet dalam kalangan remaja:

1. Lupa dan leka tanggungjawab terhadap Pencipta,diri sendiri dan keluarga.
2. Bergelumang dengan dosa-dosa.
3. Berada di dunia khayalan dan tidak berpijak di bumi yang nyata.
4. Hilang fokus terhadap pelajaran.
5. Cinta bukan pada masanya perosak jiwa.
6. Mengharapkan sesuatu yang tidak pasti.
7. Cinta memerlukan banyak pengorbanan.
8. Maruah diri terjejas. Ia merupakan mukadimah-mukadimah yang melahirkan jenayah seksual seperti rogol, atau cinta melampaui batas.
9. Rumahtangga yang dibina selepas banyak kemaksiatan dan keterlanjuran, akan dihukum oleh Allah dengan perasaan syak wasangka yang bakal menyelubungi perkahwinan itu.
10. Lelaki dan perempuan yang baik bukanlah yang memakai kosmetik Islam pada sms berbau Islam atau pakaian berwarna Islam, tetapi pada kekuatan menghalang diri dari saling mengotorkan pasangan dengan maksiat.
11. Sesungguhnya cabaran selepas berkahwin adalah jauh lebih berat berbanding dengan sekadar cabaran mengelak dari zina sebelum kahwin. Jika ini pun gagal, muhasabahlah diri segera sebelum melangkah ke usia dewasa yang lebih mencabar itu.

Cinta tidak semestinya bersatu jika kita tidak ditakdirkan bersama. Cinta sejati adalah cinta antara suami dan isteri. Cinta ini adalah cinta yang halal. Teruskan mencintai milik kita, pasti bahagia. 

Jangan cuba mengkhianati cinta yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Tidak dinafikan, kehidupan tanpa cinta akan membuatkan diri terseksa dan merana. Tetapi, ingat!! Kepada remaja zaman sekarang, fikir-fikarkanlah. Jagalah dirimu baik-baik. Sentiasa ingat pada Allah.. Hanya pada Dia kita berserah dir. Sekali mahkota diri tergadai, kita akan merana sepanjang masa, oleh itu berhati-hatilah dalam menjaga marwah diri, jangan mudah tergoda dengan manis kata-kata jejaka, kerana semua itu adalah penggoda dan syaitan selalu berada di sampingnya.

Banyak menginganti Allah adalah cara terbaik untuk terlepas dari tipu daya penggoda yang akan merosakkan kehidupan kita di masa hadapan dengan hanya menjalin hubungan Cinta Monyet.

Walahu’alam.


Sumber :  the quete blog

Friday, 15 May 2015

MANUSIA YANG PUNYAI SIFAT TERGESA-GESA


Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,"Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda (adzab)-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera." (QS. al-Anbiya': 37)

Dan juga firman-Nya, artinya, "Dan manusia mendo'a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo'a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa." (QS. al-Isra': 11)

Ayat pertama menjelaskan bahwa manusia diciptakan dengan sifat tergesa-gesa. Yang dimaksud dengan 'manusia' di sini, boleh jadi semua jenis/bangsa manusia atau boleh juga Adam ’alaihissalam. Artinya, ia diciptakan dengan sifat tergesa-gesa. Manakala secara semulaji Adam memiliki sifat seperti ini, maka ia mendapatinya pula ada pada anak-anaknya lalu mewariskan kepada mereka sifat tergesa-gesa ini.

Menurut Ibn al-Jauzi dalam tafsirnya, Zad al-Masir, Bila yang dimaksud 'manusia' di sini adalah jenis/bangsa manusia, maka boleh jadi dalam redaksi ayat terdapat Taqdim (Sesuatu yang didahulukan) dan Ta'khir (sesuatu yang dikemudian kan), maknanya bahwa sifat tergesa-gesa diciptakan pada manusia.

Terdapat hads yanig menyebut kan bahwa ayat pertama di atas (surat al-Anbiya') turun ketika orang-orang kafir Quraisy meminta disegerakan nya adzab atas mereka, lalu Allah subhanahu wata’ala ingin melarang mereka dan memberi peringatan kepada mereka. Karena itu, didahulukan celaan kepada manusia bahwa ia memiliki sifat, tabi'at dan karakter tergesa-gesa sehingga membuatnya tidak mau membuka mata dan tidak berhati-hati dalam menyampaikan tuntutannya.

Dengan makna ini tidak ada hal yang perlu dipertentangkan antara penggalan pertama ayat yang artinya,"Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa" dan penutupnya, "Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkan nya dengan segera." Masalahnya, ada sebagian orang yang mempertentangkan hal itu dengan mengatakan, bagaimana boleh di satu sisi manusia diciptakan dengan sifat dan tabiat tergesa-gesa, sementara di sisi yang lain, Allah subhanahu wata’ala melarangnya melakukan sifat yang sudah menjadi karakter dan tabiatnya itu? Bukankah ini sama dengan pembebanan dengan sesuatu yang mustahil.?

Jawaban atas pertanyaan kritis seperti ini dikatakan, bahwa benar, manusia diciptakan dengan tabiat tergesa-gesa akan tetapi ia juga mampu untuk memaksakan dirinya agar berhati-hati dan tidak tergesa-gesa. Sebagaimana ia diciptakan dengan sifat cinta hawa nafsu, maka di samping itu pula ia harus mampu memaksakan dirinya agar mengekangnya.!! Artinya, bahwa manusia memiliki kemampuan yang dengan nya ia dapat mengalahkan hawa nafsu dan juga meninggalkan sifat tergesa-gesa itu.!

Sementara ayat kedua di atas (surat al-Isra') juga menjelaskan sifat tergesa-gesa manusia, lahir dan batin. Dalam ayat itu, diinformasikan mengenai sifat manusia yang ingin cepat-cepat (tergesa-gesa) dan meminta semua apa yang terbetik di dalam hati dan perasaannya serta bila sedang kecewa, maka ia berdo’a atas dirinya sendiri, anak atau hartanya dengan kematian, kebinasaan, kehancuran dan semisalnya.

Maka benarlah firman-Nya, artinya, "Dan manusia mendo'a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo'a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa," (QS. al-Isra’: 11), yakni bertabiat tergesa-gesa. Di antara ketergesa-gesaannya itu adalah mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Andaikata Rabb mengabulkannya, niscaya celakalah ia dengan do’anya itu sebagaimana firman-Nya, artinya, "Dan kalau sekiranya Allah menyegera kan kejahatan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegera kan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka. Maka kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, bergelimang di dalam kesesatan mereka." (QS. Yunus: 11)

Terkait dengan hal ini, terdapat hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 'Ya Allah, sesungguhnya Muhammad adalah manusia biasa yang dapat marah sebagaimana manusia marah. Dan sesungguhnya aku telah mengambil janji di sisi-Mu bahwa Engkau tidak akan mengingkariku akan hal itu; maka Mukmin mana pun yang telah aku sakiti, aku cela atau aku cambuk, maka jadikanlah hal itu sebagai kafarat (penghapus dosa kecil) dan taqarrub (pendekatan diri) yang dengannya Engkau dekatkan ia kepada-Mu pada hari Kiamat."(Dikeluarkan Muslim)

Hadis ini menunjukkan sifat manusia yang suka cepat-cepat dan tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, mengeluarkan putusan hukum, memberikan sanksi, mencela dan menginginkan kesenangan.

Pengaruh Sifat Tergesa-Gesa Pada Kesehatan Jiwa

Terdapat hadis dari 'Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,"Sesungguhnya sifat lemah-lembut (berhati-hati) tidaklah berlaku pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu melainkan ia membuatnya tercela." (HR.Muslim) Hadis lainnya berasal dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, "Aku pernah mendengar Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 'Barangsiapa yang diharamkan dari sifat lemah-lembut (tidak memilikinya), maka niscaya ia diharamkan dari kebaikan (tidak mendapatkannya).” (HR.Muslim)

Sifat tergesa-gesa amat berpenga ruh pada kehidupan manusia dan segala aktivitasnya melalui dua sisi:

Pertama, Sisi Materil, di mana seseorang akan banyak kehilangan hal-hal yang bermaslahat baginya atau dapat mengakibatkan ia ditimpa penyakit, musibah, bencana dan kerugian yang bervariasi baik terhadap tubuhnya, anak, harta dan hal-hal yang dimilikinya. Ketergesa-gesaannya dalam mengambil sesuatu, berjalan, mengendarai mobil, memasak makanan, memberikan sanksi kepada anaknya dan dalam pembicaraannya; maka semua itu memiliki pengaruh materil yang amat besar dan nyata.

Oleh kerana itu, dalam ayat yang lain (QS. al-Furqan: 63), Allah subhanahu wata’ala menyebut manusia yang beruntung dan sukses, yaitu seorang Mukmin dengan sifat tenang dan lemah-lembut. Demikian juga Luqman berwasiat kepada putranya agar bersifat sederhana (QS. Luqman: 19). Tidak diragukan lagi, bahwa dalam kesederhanaan itu terdapat pengaruh yang amat terpuji dan akibat baik yang tidak dapat ditakar dengan harga. Inilah yang kita dapatkan ringkasan dan maknanya dari batasan dan persyaratan yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadisnya di atas, "Sesungguhnya sifat lemah-lembut (berhati-hati) tidaklah berlaku pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu melainkan ia membuatnya tercela." Dan saat beliau bersabda, "Barangsiapa yang diharamkan dari sifat lemah-lembut (tidak memilikinya), maka niscaya ia diharamkan dari kebaikan (tidak mendapatkannya)." Dalam sifat lemah-lembut (berhati-hati) terdapat jaminan yang tegas akan berlangsung baiknya semua urusan manusia dan damainya kondisi dan kesudahannya. Sifat lemah-lembut bahkan merupa kan pintu kebaikan yang harus dimiliki setiap manusia sehingga ia dapat meraih buahnya; jika ia menghindarinya, berarti ia tidak akan mendapatkan kebaikan apa pun.

Ke Dua, Sisi Psikis/Kejiwaan, di mana sifat tergesa-gesa akan membuatnya luput dari merasakan ketenangan jiwa, ketenteraman dan kedamaian. Sifat tergesa-gesa secara dzati dan pengaruhnya dapat menimbulkan kecemasan pada manusia, membekaskan penyesalan ke dalam perasaan dan relung hatinya sehingga dapat mengganggu kesehatan jiwa dan kestabilan hatinya.

Gejala kejiwaan paling penting yang ditimbulkan sifat tergesa-gesa adalah penyesalan dan sikap menyayangkan atas apa yang telah berlalu. Ini adalah penyakit yang menghinggapi semua manusia, sedikit atau banyak.! Dan diantara sebabnya yang paling penting adalah kerana tidak membiasakan jiwa untuk mengekang sifat tergesa-gesa itu.!

Di sinilah rahasia anjuran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar memiliki sifat lemah-lembut dan pengaruhnya,

Pengalamn dalam kehidupan orang yang bersifat tergea-gesa biasanya mudah memikat atau jatuh cinta tehadap seseorang dan juga dalam pada satu satu masa yang lain dia mudah pula lupa dan membenci orang yang disayangi dan kasihi sebelum ini. Oleh itu kita peru berwaspada dengan orang yang bersifat sebegini kerana bila ada sesuatu masalah dia secara tergesa gesa membuat keputusan untuk berpisah dan suka menuding jari kepada orang lain.

 wallahu a'lam.


Sumber : Inbusinal

Saturday, 9 May 2015

PENGORBANAN IBU BAPA TERHADAP ANAK-ANAK.


Anak kena taat perintah selagi tidak bertentangan dengan agama

KASIH sayang anugerah Allah SWT kepada makhluk-Nya untuk mereka hidup harmoni dan berkongsi rasa cinta serta belas kasihan dalam perjalanan singkat yang dinamakan kehidupan.

Begitu indah kasih sayang Allah SWT kepada setiap hamba-Nya dengan mengurniakan insan yang setia berdamping sejak awal usia kandungan lagi. Ditetapkan untuk setiap manusia itu hidup selamat dalam rahim kira-kira sembilan bulan sepuluh hari.

Allah SWT berfirman yang bermaksud: “Dan Kami telah menasihati manusia supaya berlaku baik kepada kedua-dua orang tuanya ketika mana ibunya telah mengandungkannya dalam keadaan yang teramat berat keperitannya dan (mengarahnya) untuk memutuskan penyusuan setelah (bayi) berumur dua tahun, maka syukurlah kamu kepada-Ku dan seterusnya kepada kedua-dua ibu bapamu dan kepada-Ku kamu akan kembali.” (Surah Luqman, ayat 14)

Pada usia kandungan itu jugalah kita sebagai manusia bergantung harap kepadanya atas nama kehidupan, kerana nyawa kita bersama nyawanya dan setiap darah yang mengalir dalam tubuhnya membolehkan kita hidup selesa, selamat, tenang, harmoni dan tiada sebarang gangguan.

Begitu mulianya pendamping setia kita iaitu ibu. Apabila menyebut mengenai erti kasih sayang seseorang ibu, maka terbayang dalam lipatan pemikiran kasih sayang yang tiada nilainya sejak kita dalam kandungan sehinggalah dewasa.

Tahukah kita ketaatan kepada ibu besar tuntutannya seperti firman Allah yang bermaksud: “Dan Tuhanmu telah mewajibkan supaya tidak menyembah selain dari-Nya dan berlaku baik kepada ibu bapa.” (Surah al-Isra’, ayat 23)

Allah SWT meletakkan kewajipan mentaati ibu bapa selepas kewajipan mentauhidkan-Nya. Al-Quran juga menceritakan pengorbanan seseorang ibu semasa mengandungkan anaknya.

Allah SWT berfirman yang bermaksud: “Dan Kami telah menasihati manusia supaya berlaku baik kepada kedua-dua orang tuanya ketika mana ibunya telah mengandungkannya dalam keadaan yang teramat berat keperitannya dan (mengarahnya) untuk memutuskan penyusuan setelah (bayi) berumur dua tahun, maka syukurlah kamu kepada-Ku dan seterusnya kepada kedua-dua ibu bapamu dan kepada-Ku kamu akan kembali.” (Surah Luqman, ayat 14)

Apabila melihat realiti yang berlaku dewasa ini, kita dapati anak semakin kurang memberi tanggungjawab serius terhadap hak penjagaan kedua-dua ibu bapa mereka. Betullah kata-kata, seorang ibu mampu menjaga 10 anak, tetapi 10 anak belum tentu mampu menjaga seorang ibu.

Tidak keterlaluan untuk saya nyatakan, semakin ramai dalam kalangan kita yang berani menderhaka kepada ibu bapa sama ada dengan menengking, marah atau tidak ambil peduli langsung kebajikan kedua-dua ibu bapa mereka.

Firman Allah SWT yang bermaksud: “Janganlah kamu berkata kepada keduanya (ibu bapa) dengan perkataan ‘ah’ dan janganlah pula kamu mengherdik mereka. Bercakaplah kepada mereka dengan perkataan yang mulia.” (Surah al-Isra’, ayat 23)

Berdasarkan firman Allah SWT ini, ulama mengeluarkan hukum hanya dengan menyebut perkataan ‘ah’ dan seumpamanya kepada kedua-dua ibu bapa boleh menyebabkan seseorang itu terjerumus dalam dosa penderhakaan.

Sesuatu yang lebih menyayat hati apabila ada anak yang sanggup berlaku ganas dengan memukul malah sanggup membunuh ibu bapa sendiri atas hasutan nafsu dan syaitan. Di manakah ihsan kita?
Sememangnya tanggungjawab menjaga ibu bapa adalah satu tugas yang berat, namun apakah sama taraf bandingnya dengan keperitan mereka lalui ketika mengandungkan, melahirkan seterusnya mendidik kita dengan didikan yang sempurna?

Direkodkan oleh Imam al-Bukhari dalam kitab Sahihnya, Nabi SAW didatangi seorang lelaki untuk bersama berjihad dalam peperangan. Lalu Nabi SAW bertanya: Adakah kamu sudah meminta izin daripada kedua-dua ibu bapamu? Lantas lelaki itu menjawab: Belum. Maka Nabi SAW menyuruhnya untuk pulang meminta izin daripada kedua-duanya dan jika tidak dibenarkan untuk turut sama berperang maka Nabi SAW menyuruhnya untuk kekal berbakti kepada keduanya.

Berlaku baiklah kepada kedua-duanya walaupun sesibuk manapun kita. Jika ada perselisihan, maka berbincanglah dengan baik dan mendahulukan kehendak ibu bapa itu lebih utama berbanding kehendak diri dan keluarga kita.

Janganlah kerana kepentingan isteri dan anak, kita melupakan tanggungjawab penjagaan kedua ibu bapa. Turutilah kata mereka selagi tidak bercanggah dengan syariat Islam. Jika bercanggah dengan syariat maka tolaklah dengan baik dan janganlah menderhaka kepada kedua-duanya.

Firman Allah SWT yang bermaksud: “Dan apabila mereka menyuruh engkau menyekutukan-Ku dengan sesuatu yang tidak engkau ketahui maha janganlah engkau taati mereka berdua dan bergaullah dengan mereka berdua di dunia secara baik.”

Ibnu Kathir menukilkan kisah seorang sahabat, Saad bin Abi Waqqas yang menolak permintaan ibunya untuk meninggalkan agama Islam sehinggakan ibunya mengugut Saad bin Abi Waqqas untuk tidak makan dan minum sehinggalah beliau meninggalkan Islam.

Maka turunlah perintah Allah SWT yang bermaksud: “Sesungguhnya Kami telah mewasiatkan kepada manusia untuk berlaku baik kepada kedua-dua ibu bapa. Jika mereka menyuruh kamu mesyirikkan-Ku dengan apa yang engkau tidak ketahui maka janganlah kamu mentaatinya.” (Surah al-‘Ankabut, ayat 8).

Wahai para anak-anak sekelaian. hormatilah ibu dan bapa mu selagi ianya masih ada. berbaktilah kepada mereka yang telah tua sebagai membalas jasa mereka yang telah melahir, membersar, memdidik kira semua sehingga menjadi manusia yang berguna sehingga hari ini. Ingatlah bahawa keredaan ibu bapa akan mendapat keredanaan Allah di akhirat kelak.

Wallahu’lam,


Oleh: Imam Muda Asyraf

Sunday, 3 May 2015

CINTA ALLAH

    RABI'AH AL ADAWIYAH
    Perindu Cinta Allah
    Rabi’ah binti Ismail al-Adawiyah tergolong wanita sufi yang terkenal dalam sejarah Islam. Dia dilahirkan sekitar awal kurun kedua Hijrah berhampiran kota Basrah di Iraq. Dia lahir dalam sebuah keluarga yang miskin dari segi kebendaan namun kaya dengan peribadatan kepada Allah. Ayahnya pula hanya bekerja mengangkut penumpang menyeberangi Sungai Dijlah dengan menggunakan sampan.

    Pada akhir kurun pertama Hijrah, keadaan hidup masyarakat Islam dalam pemerintahan Bani Umaiyah yang sebelumnya terkenal dengan ketaqwaan telah mulai berubah. Pergaulan semakin bebas dan orang ramai berlumba-lumba mencari kekayaan. Justeru itu kejahatan dan maksiat tersebar luas. Pekerjaan menyanyi, menari dan berhibur semakin diagung-agungkan. Maka ketajaman iman mulai tumpul dan zaman hidup wara’ serta zuhud hampir lenyap sama sekali.
    Namun begitu, Allah telah memelihara sebilangan kaum Muslimin agar tidak terjerumus ke dalam fitnah tersebut. Pada masa itulah muncul satu gerakan baru yang dinamakan Tasawuf Islami yang dipimpin oleh Hasan al-Bashri. Pengikutnya terdiri daripada lelaki dan wanita. 
    Mereka menghabiskan masa dan tenaga untuk mendidik jiwa dan rohani mengatasi segala tuntutan hawa nafu demi mendekatkan diri kepada Allah sebagai hamba yang benar-benar taat.
    Bapa Rabi’ah merupakan hamba yang sangat bertaqwa, tersingkir daripada kemewahan dunia dan tidak pernah letih bersyukur kepada Allah. Dia mendidik anak perempuannya menjadi muslimah yang berjiwa bersih. Pendidikan yang diberikannya bersumberkan al-Quran semata-mata. Natijahnya Rabi’ah sendiri begitu gemar membaca dan menghayati isi al-Quran sehigga berjaya menghafal kandungan al-Quran. Sejak kecil lagi Rabi’ah sememangnya berjiwa halus, mempunyai keyakinan yang tinggi serta keimanan yang mendalam.

    Menjelang kedewasaannya, kehidupannya menjadi serba sempit. Keadaan itu semakin buruk setelah beliau ditinggalkan ayah dan ibunya. Rabi’ah juga tidak terkecuali daripada ujian yang bertujuan membuktikan keteguhan iman. Ada riwayat yang mengatakan beliau telah terjebak dalam kancah maksiat. Namun dengan limpah hidayah Allah, dengan asas keimanan yang belum padam di hatinya, dia dipermudahkan oleh Allah untuk kembali bertaubat. Babak-babak taubat inilah yang mungkin dapat menyedar serta mendorong hati kita merasai cara yang sepatutnya seorang hamba brgantung harap kepada belas ihsan Tuhannya.
    Marilah kita teliti ucapan Rabi’ah sewaktu kesunyian di ketenangan malam ketika bermunajat kepada Allah: